Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren

Bullying atau perundungan pada anak sangat sering dijumpai dalam pergaulannya. Seorang anak yang kerap mendapat perlakukan tidak menyenangkan seperti ejekan, ancaman, gangguan atau bahkan mendapat kekerasan fisik dari teman-temannya. Hal ini tidak dapat dibiarkan

Orangtua dan guru harus peka terhadap kasus bullying dan benar-benar melindungi korban serta mengedukasi pelaku 

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren

Bullying dapat diartikan dengan sebuah tindakan menyakiti baik dilakukan dengan ucapan kata atau tindakan (sentuhan fisik).

Pada "bully" dibagi menjadi dua yaitu Verbal dan Non Verbal.

Bullying Verbal adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan kata-kata atau ungkapan dengan maksud menyakiti, baik dilakukan secara sengaja atau diluar kesadaran.

Bullying Non Verbal adalah sebuah perilaku atau perbuatan menyakiti jasmani (fisik).

Sejumlah kasus bullying kerap terjadi dilingkungan sekolah, bahkan sampai merengut nyawa korban. Pelajar yang dikenal pendiam dan berperawakan lemah kerap dijadikan sasaran empuk untuk dijadikan bahan ejekan atau dikucilkan. Adapula yang sering dikerjai, dijambak, dipukul, dipaksa melakukan sesuatu dan perlakukan kasar lainnya.

Bullying verbal atau non verbal sangat berbahaya jika dibiarkan menjamur dalam ruang lingkup pendidikan, guru pendidik harus bertanggung jawab 

Dari data yang dirilis oleh Word Vision Indonesia, kasus Bullying terjadi diberbagai daerah pada tahun 2008 dengan jumlah 1.626 kasus dan pada tahun 2009 terus meningkat menjadi 1.891. semua kasus Bullying ini terjadi di sekolah (lembaga pendidikan)

Seakan-akan seperti wabah virus yang sangat sukar dimusnahkan, fenomena inilah yang membuat kegelisahan kalangan orangtua, seharusnya ranah lembaga pendidikan baik sekolah ataupun pesantren menjadi tempat yang nyaman dan terjaga dari hal buruk dan pengaruh dunia luar.


Bullying di Pondok Pesantren

Problematika dalam proses pendidikan pasti selalu ada, tidak ada lembaga pendidikan yang selalu barada dalam keadaan baik-baik saja, terlebih lagi bagi lembaga pesantren memiliki peserta didik yang datang dari berbagai daerah, suku dan ras, selain itu latar belakang keluarga dan status sosial orangtua juga beragam. Semua mereka berkumpul dalam lingkungan terbatas (lingkungan pesantren)

Tidak hanya di sekolah formal, bullying bisa terjadi Pesantren, sejatinya pesantren merupakan sekolah kehidupan, peserta dididik atau santri menjalani aktifitas keseharian dalam kelompok atau komunitas.

Tentu tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi korban bullying dan begitu juga bagi guru pendidik harus berupaya keras untuk mencegah konflik antar pelajar.

Sebelum kita masuk kepada solusi, kita pahami terlebih dahulu hal-hal terkait Bullying ini, sehingga ada gambaran dalam tindakan untuk mencapai pada solusi.

Apa dampak terburuk dari Bullying.?
Ada banyak dampak buruk yang terjadi bagi anak korban Bullying, sampai saat ini hal terburuknya anak-anak cenderung mengalami psikotik yaitu gangguan jiwa, hal ini terjadi karena ketidakmampuannya menanggung beban rasa.

Anak yang terus menerus mendapat ejekan, sentuhan kekerasan fisik dari temannya jika pelaku tidak mendapat edukasi maka ia akan mengira perilakunya tidak begitu bermasalah sehingga melakukan tindakan yang lebih keras bahkan mungkin saja sampai merengut nyawa korban.

Siapakah Pelaku Bullying dalam lembaga pendidikan.?

1. Teman atau Kakak Kelas
Dalam lembaga pendidikan fenomena senioritas kerap berdampak pada tindakan bullying, pelajar senior memperlakukan adik kelasnya seperti bawahan atau budak.

Teman dalam komunitas, baik itu teman sekelas, teman seasrama ataupun teman sekamar juga bisa tampil menjadi pelaku bullying. Umumnya adalah anak yang memiliki kepercayaan diri yang kuat ingin merajai atau ditakuti teman dalam komunitas.

Fenomena ini adalah cikal bakal bullying, pada akhirnya nanti sang anak suka melontarkan ancaman dan tekanan kepada teman jika tidak menuruti kemauannya bahkan ia berani memukul atau memberi tindakan kekerasan kepada siapa saja yang tidak disenanginya.

Saat perilakunya dipergoki guru, pelaku bullying biasanya melontarkan alasan hanya sekedar "bercanda" atau "main-main"

2. Pegawai atau Karyawan
Tidak diduga banyak orang bahwa pelaku bullying juga bisa berasal dari pegawai atau karyawan di sekolah.
 
Didalam lembaga pendidikan pastinya ada karyawan atau petugas yang bekerja dalam lembaga tersebut yang bertugas diberbagai bidang, seperti petugas keamanan (satpam), petugas kebersihan dan lain-lain, tidak sedikit kasus bullying yang terjadi, siswa mendapati perlakuan tidak baik dari karyawan di sekolahnya.

Petugas kebersihan membentak seorang murid karena dianggap mengganggu pekerjaannya atau satpam sekolah menyindir murid disekolah dengan kalimat-kalimat menyakitkan hati dan lain sebagainya.

3. Guru
Guru bisa saja menjadi palaku bullying, guru atau pendidik yang seharusnya menjadi pengayom anak namun bisa saja bertindak dengan menyakiti perasaan atau bahkan memberikan hukuman fisik yang didasari faktor tidak suka. 

Ada banyak tindakan yang tidak menyenangkan yang kerap dilakukan guru kepada muridnya seperti memberikan lakob/sebutan "anak manja, anak malas, si suka tidur dan lain-lain"

Perkataan ini sudah termasuk dalam ranah Bullying yang mematik potensi murid-murid sekolah juga ikut serta mengejek korban dengan perkataan tersebut. sehingga terjadilah Bullying masal

Ketiga diatas adalah pelaku Bullying dalam ranah pendidikan baik di sekolah ataupun pesantren dari berbagai kasus ditemukan, semua ini akan menjadi permasalahan besar jika tidak dilakukan penanganan dengan cepat.

Anak yang mendapati perlakuan Bullying tentunya akan mengalami gangguan mental dan hilang kepercayaan diri, sehingga proses pendidikannya terganggu dan mendapati kemungkinan memunculkan masalah.

Bebarapa dampak Bullying pada anak di lembaga pendidikan

1. Suka Menyendiri dan enggan bergaul bergabung dalam kelompok
2. Tumbuh rasa emosional yang tidak terarah
3. Suka gelisah dan penakut
4. Sering mengalami mimpi buruk
5. Membuat keonaran secara spontan atau menangis tanpa sebab yang jelas
6. School Phobia (Meminta pindah sekolah) dan lain-lain

Jika lembaga pendidikan baik di sekolah ataupun di pesantren dalam ruang lingkup asrama tidak memperhatikan kasus Bullying dapat dipastikan akan menuai permasalahan serius pada lembaga, karena Bullying ini adalah perihal rasa perasaan yang didapati korban, seorang murid yang merasa tidak mendapat keadilan atau perlindungan tidak menutup kemungkinan akan meumbuhkan kebencian pada guru dan lembaga pendidikan tempat ia bersekolah.


Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren

Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren

Setelah mengetahui personal pelaku yang mungkin terlibat dalam Bullying dan efek bagi korban Bullying, saatnya kita menemukan solusi penanganan.

Beberapa tindakan yang bisa dilakukan para pengurus lembaga pendidikan atau guru pendidik, karena pada hakikatnya segala teori pendidikan itu tidak bisa diterapkan maksimal di semua kondisi atau lembaga, segala proses penanganan bergantung pada konteks permasalahan masing-masing.

1. Kerjasama Orangtua dan Guru (Cross Chek)
Dalam lembaga pendidikan proses mendidik semestinya mendapati kerjasama komunikasi baik antar orangtua dan pendidik, setiap orangtua harus terbuka dengan sikap anak pada saat mendaftarkannya di sekolah. terutama disekolah berasrama seperti pesantren.

Segala sikap,perilaku dan kepribadian anak dirumah harus diberitahukan kapada guru, begitupula gurupun harus membuka ruang diskusi kepada orangtua murid dan memberitahukan segala perkembangan anaknya selama menjalani proses pendidikan. 

2. Pengelompokan
Dalam proses pendidikan tentunya sering terjadi pembentukan kelompok, baik itu projek pembelajaran atau pengaturan anggota kelas, terlebih lagi dengan pesantren harus ada perhatian khusus dalam menempatkan santri dalam kelompok anggota kamar. Pengelompokan ini dapat diartikan dengan penyusunan anggota setiap kelompok murid yang diselaraskan dengan sikap masing-masing

Mungkin pada murid baru hal ini sulit diterapkan karena guru belum mengetahui karakter kepribadian murid barunya, namun dalam waktu 4-6 bulan sudah cukup untuk menelaah sikap murid 

Murid yang suka membully dan suka membuat keributan di sekolah jika digabungkan dengan dengan murid yang pendiam tentu akan menimbulkan banyak permasalahan, biasanya murid pendiam akan menjadi korban dari segala tindakan negatif teman-temannya.

Pemilihan dalam pengelompokan ini sebenarnya banyak mendapat pertentangan dari para pakar psikolog yang menyatakan tidak setuju dengan pengolompokan tertentu dengan alasan memberi kesan pada publik ada istilah kelompok rajin dan kelompok malas atau kelompok jahat.

Selain itu para pakar juga menyatakan rentan terjadi kesenjangan pendidikan, kelompok yang rajin akan semakin berprestasi dan mendapat pujian dan kelompok yang malas akan terus malas dan semakin jauh dari prestasi.

Sebenarnya hal ini bergantung pada pola penerapan yang dilakukan guru, dalam penerepannya dituntut kreatifitas dalam penanganan, guru di sekolah lebih mengetahui kondisi dan situasi terbaik di lapangan.

3. Pemahaman Bullying terhadap lembaga
Guru, karyawan dan seluruh unsur lembaga termasuk peserta didik dan orangtua, harus dipahamkan terhadap Bullying dan dampak buruknya, hal ini akan meminimalisir terjadi Bullying antar guru terhadap murid atau karyawan dengan murid atau sebaliknya, sehingga lahir perhatian dan kewaspadaan.

4. Perhatian kepada pihak pelaku dan korban
Sejatinya pelaku Bullying di sekolah itu hanya beberapa orang namun mampu mempengaruhi orang lain, setelah mendeteksi atau menemukan kasus Bullying yang dilakukan murid, guru harus memantau memperhatikan murid tersebut, perhatian ini termasuk didalamnya bimbingan khsusus (dalam bimbingan ini ada banyak cara yang bisa dilakukan guru atau para eksekutor pendidik seperti pendakatan ruhaniyah, nasehat agama atau upaya membersamai murid dalam banyak hal pada aktifitasnya) guru bisa menjadwalkan perhatian khsusus kepada pelaku Bullying

Pada kasus yang ditemukan di sekolah-sekolah para pendidik hanya memperhatikan satu pihak, biasanya fokusnya hanya pada korban Bullying, terlebih lagi jika korban meminta paksa untuk pindah sekolah, hal ini tidak salah, namun kepada pelaku juga harus ada perhatian khsusus untuk merubah perilakunya.

Pelaku Bullying dijatuhi hukuman seperti skorsing atau bahkan dikelurakan dari sekolah, hal ini tidak banyak merubah hal menjadi baik, mungkin Bullying akan berhenti sejenak, namun tahukah kita bahwa akan terjadi kesenjangan sosial antar murid,korban akan semakin mendapatkan pandangan negatif dari murid lainnya, enggan berteman dengannya bahkan terkadang mencemoohkannya dalam pergaulan sehinnga membuat situasi tidak nyaman baginya dan pada akhirnya dia juga meminta pindah sekolah.

Dalam penanganan kasus Bullying, guru harus objektif melihat situasi dari segala pihak, pelaku dan korban harus mendapat perhatian khusus.

Kesimpulan:
Segala permasalahan dalam ranah pendidikan sifatnya dinamis, kasus Bullying ibarat virus yang bisa tumbuh perkembang dalam pergaulan anak, sangat fatal jika terjadi pembiaran atau ketidak pedulian pendidik.

Dalam penanganan kasus Bullying yang dilakukan murid di sekolah atau santri di pesantren sebenarnya tidak ada teori mutlak yang bisa dijadikan solusi, mungkin kita pernah mendengar suatu teori yang bagus dan pernah diterapkan suatu lembaga pendidikan atau kita temukan dari buku-buku literasi, namun hal itu belum tentu berhasil jika kita terapkan di lembaga pendidikan yang kita bina, karena kondisi dan jenis kasus yang terjadi tidak semua sama, oleh karena itu kita butuh modifikasi.

Pada proses pendidikan dan pembinaan,kunci utamanya adalah perhatian terhadap peserta didik, dengan terus memperhatikan kondisi personal peserta didik akan tercapai kedekatan dan komunikasi yang solid antar guru dan peserta didik, sehingga menemukan permasalahan sosial mereka, sehingga ada pencegahan dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Tanpa adanya kedekatan guru terhadap murid tentunya akan terjadi kesenjangan dalam hubungan ada ketertutupan, guru baru menyadari ketika permasalahan sudah berskala besar atau sudah terjadi suatu peristiwa

Penanganan kasus Bullying dibutuhkan kerja sama dari segala elemen dalam lembaga pendidikan, tidak bisa dilakukan perorangan atau team, semua guru pegawai,karyawan dan orangtua murid bahkan pembina yayasan pendidikan harus bekerjasama dalam mengatasi Bullying.

Posting Komentar untuk "Cara Mengatasi Bullying di Sekolah dan Pesantren"